Spread the love

Janji Jokowi Untuk Pertamina dan Bangsa Indonesia

Jakarta – Langkah berani Presiden Joko Widodo dan Dirut Pertamina Dwi Soetjipto untuk bubarkan Petral lalu membangun kilang minyak dengan cara bangun kilang baru di Tuban 300 ribu barrel, di Bontang 300 ribu barrel, upgrading/RDMP di Cilacap, Balongan, Balikpapan dan lainnya, maka di tahun 2025 diperkirakan Pertamina akan produksi BBM 2,2 juta barrel dengan sebagian besar sudah standar Euro 5. Pertamina akan bisa lampaui Petronas.

Sebelumnya, Kapasitas kilang minyak yang dimiliki Pertamina di Indonesia hanya 800 ribu barel per hari, sementara kebutuhan BBM domestik mencapai 1,3 juta barel per hari, pertanyaannya, “yang 500 ribu barel-nya dari mana?”

Dikutip dari detik finance, Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar mengatakan, “Kebutuhan BBM dalam negeri sebesar 1,3 juta barel per hari (bopd) di tahun 2017. Lanjutnya, kebutuhan BBM itu dipenuhi dari produksi minyak mentah dalam negeri, impor minyak mentah, dan impor BBM. Untuk produksi minyak mentah sekitar 59% berasal dari dalam negeri. Sisanya impor mengambil porsi 41%.”

Diketahui selama ini Petral, yang berlokasi di Singapura menjadi ujung kunci dalam pengadaan impor minyak Pertamina.

Singapura itu karena masalah kepastian hukum. Banyak transaksi-transaksi dunia dilakukan di Singapura karena faktor kepastian hukum, dimana bila terjadi dispute maka proses hukum internasional relatif lebih mudah dilakukan di Singapura. Singapura meski luas wilayahnya kecil, tapi mereka punya kilang minyak berkapasitas sekitar 1,4 juta barel per hari, namun hanya digunakan 250 ribu barel untuk konsumsi domestiknya.

Singapura juga harus mencari pasar ekspor sekitar 1,15 juta barrel lagi agar tidak kelebihan minyak, “mubajir” kalau dibuang-buang. Oleh karena itulah, Indonesia menjadi pasar sangat potensial dengan konsumsi BBM sekitar 1,3 juta barel per harinya, sementara Pertamina hanya mencukupi setengah dari itu. Jadi, Indonesia sudah besar pasarnya, dekat pula jaraknya sehingga biaya logistik jadi lebih murah jika impor dari Singapura.

Artinya Petral mengelola setengah pengeluaran Pertamina dari Singapura, karena sudah bertahun-tahun ditunjuk sebagai pusat pengadaan minyak bagi kebutuhan impor Pertamina.

Oleh karena itu, Petral yang duduk manis di Singapura, tidak punya aset tapi mampu mengendalikan Pertamina lewat impornya.

Mari kita hitung impor Pertamina dengan porsi 60 bading 40, dengan harga minyak di $80 (kisaran harga minyak WTI dan Brent tahun 2010 – 2017)

Saat harga minyak mentah dunia dikisaran US $ 80 per barel. Jika kebutuhan dalam negeri 1,3 juta barel perhari, sementara kilang pertamina memproduksi 800 ribu barel perhari, maka Pertamina harus impor 500 ribu barel per hari demi mencukupi konsumsi domestik.

Jadi, $ 80 x 500.000 = $ 40.000.000 atau setara 520.000.000.000, 520 milyar rupiah per hari. Jika dikali 365 (jumlah hari dalam tahun) = 189 triliun per tahun, atau 15,8 triliun per bulan Pertamina harus melakukan impor minyak (kurs 13 ribu).

Sementara Petral tinggal duduk manis dibelakang meja, “proyek bulanan” senilai 15,8 triliun datang menghampiri dengan sendirinya dari Pertamina.

Jika diasumsikan impor Pertamina 500 ribu barel per hari x 365 (hari dalam 1 tahun) = 182.500.000 barel, yang setara dengan 29 miliar liter (1 barel = 159 liter). Itu setara dengan 29 miliar liter x 0,76 = 22 miliar kg atau 22 juta ton minyak per tahun. Dan jika diangkut dengan kapal berukuran 50.000 DWT, bisa membutuhkan 441 kapal tanker minyak yang keluar masuk Indonesia dalam setahun.

Lalu, siapa saja yang menikmati bisnis minyak ini? Jawabannya pelayaran, bisnis asuransi, bisnis jasa freight forwarding, LC perbankan dan lainnya. Jadi multiplier effect (yang kecipratan) dari proyek minyak Petral dinikmati oleh trader yang umumnya menggunakan kapal asing, asuransi asing, LC bank asing dan lainnya, maklum saja, mereka menggunakan dollar, bukan rupiah. Asinglah yang diuntungkan oleh proyek ini. Lalu Indonesia? Dapet berita impor minyaknya saja.

Begitulah Petral, seperti calo minyak, sosok yang begitu menggerogoti keuangan Pertamina dan tidak memberikan kontribusi yang berarti.

Yang namanya calo pasti mengambil untung dari setiap transaksi. Seperti ada permainan antara Pertamina dan Petral. Maka dari itu, Jokowi heran kenapa Petral tidak dibubarkan saja dari era sebelum dirinya menjabat, mungkin sekarang kita sudah unggul dari Petronas.

 

Penulis: Richana

Editor: Altifa